Full width home advertisement

Travel the world

Climb the mountains

Post Page Advertisement [Top]


Di mana atmosfer berakhir di situlah ruang angkasa dimulai. Tapi menentukan di mana batas ruang angkasa atau antariksa ternyata tidak semudah itu.

menetapkan batas ruang udara dan ruang angkasa dalam batasan yang jelas. Tanpa batasan yang jelas, satelit yang berada di wilayah di atas sebuah negara bisa dianggap sedang memata-matai atau bahkan melakukan agresi militer. 

Dan untuk itu batas tak kasat mata yang jadi garis demarkasi antara wilayah udara dan angkasa luar ditetapkan pada ketinggian 100 km di atas permukaan Bumi. Kita mengenal batas ini sebagai garis Karman, garis batas yang mengawali ruang angkasa. 



Daya Angkat Pesawat

Sesuai namanya, Garis Karman memang diberi nama sesuai nama matematikawan, insinyur kedirgantaraan, dan fisikawan berkebangsaan Hungaria-Amerika yang bekerja di bidang aeronautika dan astronotika. Penentuan batas ini bukan dimulai dari keinginan untuk mencari batas antariksa, melainkan dimulai dari permasalahan daya angkat yang dibutuhkan pesawat. Atau lebih tepatnya, von Kármán sedang mencari tahu seberapa tinggi pesawat bisa terbang. 



Pesawat bisa terbang karena adanya daya angkat. Ini adalah gaya yang dihasilkan dengan menciptakan wilayah bertekanan rendah di atas sayap. Jadi perbedaan tekanan udara di atas dan di bawah sayap menciptakan gaya angkat yang mendorong pesawat ke atas. Tekanan udara di atas sayap lebih rendah karena udara bergerak lebih cepat. 



Besarnya gaya angkat bergantung pada banyak faktor, termasuk bentuk sayap, kecepatan pesawat terbang, dan yang terpenting, kepadatan udara di sekitarnya. Pada ketinggian yang cukup tinggi, tidak ada cukup udara untuk memberikan gaya yang diperlukan agar pesawat tetap terbang, dan itu adalah ketinggian tertinggi yang dapat dicapai pesawat. Ketinggian maksimum inilah yang dicari oleh von Karman. 

Garis Karman


Pada akhir 1950-an, Theodore von Kármán melakukan perhitungan terkait seberapa besar daya angkat yang dihasilkan oleh udara dibandingkan dengan ketinggian dan kecepatan pesawat. Salah satu cara agar pesawat bisa menghasilkan daya angkat yang lebih besar adalah dengan menambah kecepatan pesawat. Dari hasil perhitungannya, von Kármán menemukan pada ketinggian 84 km, untuk menghasilkan daya angkat yang cukup di atas ketinggian tersebut, pesawat harus bergerak sangat cepat hingga terbakar. Ini karena memampatkan gas akan menghasilkan panas, dan dengan suhu tinggi pada kecepatan tersebut, tak pelak pesawat akan jadi meteor. 

Batas inilah yang kita kenal sebagai garis Kármán.


Setelah von Kármán, Robert Jastrow membuat pendekatan berbeda dan mengusulkan ketinggian 160 km sebagai garis transisi antara Bumi dan antariksa. Ketinggian ini merupakan batas terendah untuk orbit satelit. Namun pada akhirnya setelah selama beberapa dekade berbagai penelitian berbeda menghasilkan ketinggian yang bervariasi, kesepakatan dibuat. 


Pada tahun 1960-an, Fédération Aéronautique Internationale (FAI) menetapkan ketinggian 100 km  (54 mil laut; 62 mil; 330,000 kaki) di atas permukaan laut, sebagai batas wilayah atau ruang udara dan antariksa atau angkasa luar. Di atas ketinggian ini udara sudah sangat menipis. 

Sampai saat ini, 643 astronaut sudah mencapai garis Karman. Tentunya, di masa depan, akan ada lebih banyak lagi yang menjelajah antariksa. Mungkin, salah satu di antaranya adalah kamu yang sedang membaca tulisan ini. 




Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib