Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah di mata dunia. Berbagai penemuan-penemuan sumber daya alam terus bermunculan seiring berkembangnya teknologi pada zaman ini. Ekspor dan impor menjadi salah satu bagian yang sangat penting bagi pertumbuhan dunia. Teknologi yang terus berkembang menjadikan eksplorasi bahan energi yang terus mengalir.
Kekayaan sumber daya alam tersebut membuat perusahaan-perusahaan dunia meliriknya. Kerja sama antara pemilik sumber daya alam dan pemilik teknologi eksplorasi pun tak terelakkan. Salah satu eksplorasi yang paling dikenal akan gas alam cair adalah ladang gas alam Arun, Lhokseumawe, Aceh Utara.
Arun (Aron) pada awal mulanya hanyalah sebuah desa sederhana di Kecamatan Syamtalira, Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara. Wilayah geografisnya terletak di pesisir pantai timur ujung utara Pulau Sumatera.
Potensi akan kekayaan sumber daya alam ini bermula pada tahun 1968 ketika dilakukan eksplorasi sumber daya minyak dan gas wilayah Aceh Utara. Eksplorasi ini merupakan kerja sama PT Pertamina dan Mobil Oil, sebuah perusahaan migas asal negeri Paman Sam.
Pada tahun 1971, pencarian sumber daya alam dari pengusaha Amerika Serikat yang dipimpin oleh Bob Graves dari perusahaan Mobil Oil ini menemukan kandungan gas alam cair di bawah Desa Arun. Selain itu, pada tahun 1972, wilayah lepas pantai di Selat Malaka yang berjarak sekitar 107,6 kilometer juga ditemukan potensi yang sama di lepas pantai.
Dari penemuan-penemuan ini menjadi langkah awal eksplorasi sumber daya alam berupa gas di wilayah Arun ini.
Pada tahun 1974, nama Arun pun disematkan menjadi nama perusahaan yang didirikan atas kerja sama Pertamina dan Mobil Oil sebagai operator eksplorasi gas alam cair bernama PT Arun. Akan tetapi secara resmi baru ditetapkan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978, setelah perusahaan ini berhasil mengekspor kondensat pertama ke Jepang.
Hasil tambang gas alam cair atau Liquified Natural Gas (LNG) di Arun ternyata cukup tinggi. PT Arun, yang dipegang secara gabungan oleh PT Pertamina, Mobil Oil (yang kemudian dilanjutkan Exxon Mobile), dan Japan Indoneia LNG Company, menjelma menjadi tempat penghasil cadangan gas terbesar di dunia. Masa puncak kejayaan ekplorasi ini terjadi di tahun 1993, dimana mampu memasok untuk pengiriman gas alam cair sebanyak 224 kapal kargo LNG per hari. Satu kali pengapalan LNG mampu memasukkan pendapatan sebesar 10 juta dollar AS. Angka tersebut sangat signifikan sebagai sumber pemasukan devisa negara.
Besarnya nilai yang dihasilkan sempat menjadi salah satu sumber pemicu kemunculan konflik di Aceh. Hal ini tak lepas dari ketimpangan sosial yang terjadi antara wilayah penghasil devisa dengan kondisi ekonomi masyarakat. Padahal, pemasukan dari LNG pun sebagian telah disisihkan untuk Aceh melalui pemerintah setempat.
"Hasil pendapatan Minyak bumi dan Gas pada Arun sebesar 0,99% ke pemerintah Lokal dan 99,9% ke Pemerintah Pusat. Hasil pendapatan tersebut mengakibatkan ketidakpuasan pemerintah lokal kepada pemerintah pusat yang menyebabkan konflik struktural di kalangan masyarakat"
Gejolak pada akhirnya berkurang seiring Perjanjian di Jenewa dan Helsinki pada tahun 2005.
Meredupnya gejolak juga diikuti meredupnya kejayaan PT Arun. Sumber gas yang pernah menjadi sumber pendapatan negara terbesar pun semakin menipis.
"Kesepakatan Damai pun dilakukan dengan perjanjian Mou Helsinki. Hasil pendapatan Minyak bumi dan Gas pada Arun sebesar 30% ke pemerintah Lokal dan 80% ke Pemerintah Pusat. Membuat pertumbuhan ekonomi di kalangan masyarakat terus meningkat dan berangsur-angsur pulih"
Pada akhirnya pengelolaan kawasan eksplorasi di tempat ini diserahterimakan dari PT Arun kepada PT Perta Arun Gas pada tahun 2015.
PT Perta Arun Gas (PAG) mengemban tugas untuk merevitalisasi kawasan yang pernah jaya. Revitalisasi ini bertujuan tetap menjaga denyut kehidupan dan aktifitas beroperasinya bisnis kawasan seluas 1.840 hektar ini. Bahkan pada masa depan, pengelolaan program revitalisasi ini diharapkan bisa mengembalikan masa kejayaan Arun. Pemerintah pun menjadikan areal ini sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe (KEKAL).
Langkah revitalisasi yang dilakukan adalah dengan pengoperasian pemrosesan regasifikasi (proses pengubahan gas alam fasa cair menjadi fasa gas). Hasil regasifikasi gas alam cair pun banyak memiliki manfaat. Pemanfaatan hasil regasifikasi ini mulai dari pemenuhan pembangkit tenaga listrik hingga pemenuhan kebutuhan bahan bakar rumah tangga pengganti elpiji.
Selain regasifikasi, potensi besar lain yang dijalankan PT PAG adalah sebagai terminal distribusi pasokan gas alam cair (LNG Hub) ke seluruh penjuru dunia.Lokasi strategis di perairan Selat Malaka yang sejak zaman dahulu menjadi jalur emas perdagangan dunia ini sangat memungkinkan bagi pengembangan sektor jasa di bidang minyak dan gas (migas) di masa depan.
Dalam peta jalur perdagangan internasional migas, terminal hub telah menerima jasa penyimpanan LNG dari beberapa titik penghasil LNG dunia lainnya, seperti Australia, Timur Tengah, Amerika, dan Afrika. Ini tak lepas dari posisi strategis kawasan ini sebagai penyalur bagi pasar LNG yang besar di wilayah Asia, terutama Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Di tahun 2023, perusahaan ini juga mendapat penghargaan berbintang empat “Safety Culture Award” di bidang keselamatan kerja yang diberikan World Safety Organization (WSO).
Peluang bidang jasa perdagangan migas inilah yang menjadi celah emas untuk terus dikembangkan. Meski tak lagi memiliki sumber alam gas yang melimpah seperti sedia kala, akan tetapi potensi pengembangan bidang jasa dalam mata rantai perdagangan migas telah dimiliki dan terus berkembang.
Selain itu, di PT PAG sekitar 90 persen sumber daya manusianya memberdayakan warga setempat. Langkah ini juga terus dilakukan dengan menggandeng institusi perguruan tinggi setempat untuk menyiapkan regenerasi SDM yang memadahi di bidang migas. Komitmen penyiapan regenerasi SDM lokal menjadi bukti bahwa upaya pemerataan kesejahteraan akan bisnis ini juga berdampak baik bagi sosial ekonomi masyarakat setempat.
BACA JUGA : Update Harga Emas Maret 2025
Pada akhirnya, upaya mewujudkan mimpi mengembalikan kejayaan Arun masa lalu telah dimulai. Gerak langkah ini pun layak memperoleh dukungan baik dari seluruh pihak, termasuk pemerintah. Dengan mengembalikan kembali kejayaan sumber devisa melalui sektor jasa pun secara langsung akan dirasakan meluas, baik menyejahterakan masyarakat sekitar dan juga seluruh Indonesia di masa depan.











.gif)









.gif)