Tiongkok sebagai salah satu pusat peradaban yang melahirkan banyak filosofi hidup, khususnya kepercayaan Taoisme. Apa saja nilai di dalamnya?
Pengertian Taoisme
Taoisme adalah aliran filsafat sekaligus agama yang berasal dari Tiongkok yang menekankan pentingnya hidup berseimbang dengan Tao. Tao yang dimaksud disini adalah alam semesta. Pemegang taoisme percaya bahwa jiwa manusia bersifat abadi, dan ketika manusia meninggal, maka jiwanya akan bergabung dengan tao.
Taoisme sendiri berpengaruh besar terhadap pembentukan sistem kepercayaan tidak hanya di Tiongkok, tetapi di Asia Timur dan Asia Tenggara. Pencetus utama Taoisme adalah Lao Tse dalam bukunya yang bernama Tao Te Ching.
Sistem kepercayaan ini diperkirakan muncul pada abad 3 SM. Lao Tse sebenarnya bukan nama asli, melainkan gelar baginya yang dianggap guru suci, yang artinya ‘guru tua’. Ada berbagai riwayat tentang Lao Tse, salah satunya menerangkan bahwa Lao Tse berasal dari Provinsi Honan. Asal-usulnya muncul dari keresahan Lao Tse tentang kondisi negara yang korup dan ia tidak sanggup mengubahnya. Ia lantas menyepi, lantas menulis kitab ajarannya.
Filosofi Taoisme
Filosofinya menekankan keselarasan hidup manusia dengan alam. Filosofi ini tumbuh dari pengamatan rakyat Tiongkok terhadap alam, kemudian berkembang menjadi kepercayaan akan keseimbangan kosmis yang diatur oleh entitas bernama Tao. Dalam sistem kepercayaan ini, kebahagiaan akan dapat dicapai jika seseorang berserah pada apa pun yang diberikan oleh alam dan mudah beradaptasi dengan setiap perubahan.
Salah satu filosofi Tao yang menjadi inti ialah wu wei. Secara harfiah, wu wei artinya diam, tanpa niat atau tindakan. Namun, artinya manusia bukan berarti tidak punya niat atau ambisi. Manusia tetap boleh punya niat, tetapi tidak seharusnya niat itu membuatnya hidupnya menjadi stres. Manusia seharusnya tidak boleh terlalu mengkhawatirkan masalah, tetapi tetap bersikap tenang sambil mencari solusinya.
Ajaran Taoisme
Ajaran Taoisme bersumber dari kitab Tao Te Ching. Kitab ini berisi ajaran tentang kehidupan dalam bentuk syair. Meskipun demikian, susunannya tidak sistematis. Sebagai filsafat, ia mengajarkan kepada manusia untuk agar hidup mengikuti hukum alam. Sementara itu, sebagai agama, ia mengajarkan kepada manusia agar manusia tidak menentang hukum alam.
Sistem kepercayaan Tao menggunakan air sebagai analogi. Air yang selalu menemukan jalan merupakan analogi tentang sifat luwes dan menerima takdirnya. Sementara itu, air yang mampu meluluhlantakkan merupakan analogi tentang keteguhan. Air yang dasarnya jernih dan tenang merupakan analogi manusia yang sesungguhnya semua baik, tetapi menjadi buruk karena pengaruh dari luar.
Ritual Keagamaannya
Ritualnya erat kaitannya dengan pemujaan terhadap roh leluhur. Pemeluknya percaya bahwa roh nenek moyang yang telah wafat tidak menghilang, tetapi tinggal bersama dewa-dewi. Ritual ini bisa dilakukan di kelenteng dengan dalam bentuk festival besar. Akan tetapi, ibadah rutinnya bisa juga dilakukan di rumah.
Meja altar merupakan bagian penting dalam ritual keagamaan mereka karena merupakan simbolisasi penyatuan alam surgawi dan alam duniawi. Ritual atau festival Tao dipimpin oleh seorang guru besar atau suhu. Penyucian merupakan hal utama yang dilakukan oleh guru besar karena mereka akan melakukan penyatuan roh dan dewa-dewi. Pemimpin ritual membakar dupa sambil membaca doa sebagai bentuk penyucian ruang publik menjadi ruang sakral.
Keberadaannya di Indonesia
Sistem kepercayaan ini masuk ke Indonesia sekitar abad 6 M, ketika terjadi migrasi penduduk Tiongkok ke Nusantara. Mereka membawa berbagai budaya dari tanah leluhurnya, tak terkecuali sistem kepercayaannya. Hingga saat ini belum diakui sebagai agama oleh pemerintah Indonesia. Tempat ibadahnya pun sering kali berdampingan dengan kepercayaan lain, yaitu Buddha dan Konghucu dalam konsep Tridharma.
Jumlah pemeluknya di Indonesia sangat sedikit dan mereka kesulitan ketika mengisi kolom agama dalam KTP. Mereka diharuskan mengisinya dengan salah satu dari enam agama yang diakui pemerintah. Masyarakat pun sering mengira mereka sebagai pemeluk Buddha karena kemiripan ritualnya. Sekalipun berasal dari Tiongkok, pada kenyataannya pemeluknya juga ada yang bukan keturunan Tionghoa.
Taoisme dalam Budaya Populer/Film
Filosofi dalam sistem kepercayaan ini sering kali diangkat dalam film berlatar budaya Tionghoa. Salah satunya yang sering dibahas ialah yin yang. Yin yang merupakan simbol keseimbangan dalam kehidupan yang saling melengkapi, antara baik dan buruk, siang dan malam, maskulin dan feminim. Film yang menampilkan filosofi ini misalnya Lao Tze, Kung Fu Panda, dan Red Cliff.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah keberagaman, salah satunya agama merupakan hal yang tidak mudah. Sebaiknya, kita memang memiliki sikap toleransi. Akan tetapi, kita sering kali punya prasangka buruk terhadap agama atau kepercayaan tertentu karena mendapat informasi dari sumber yang masih diragukan kebenarannya.










